Artikel ini Bermanfaat? Share Sekarang..Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on Facebook

Akuntansi Pajak PPN

 

Gambar Web Akuntansi Excel (14)Pajak memang memiliki peranan krusial dalam keberlangsungan kehidupan negara karena pajak menjadi sumber pendapatan utama negara. Oleh karena itu, ada banyak sekali jenis pajak yang dibebankan kepada wajib pajak. Jenis-jenis pajak yang harus dibayarkan oleh wajib pajak yaitu warga negara indonesia adalah pajak penghasilan, pajak bumi dan bangunan, serta pajak pertambahan nilai. Masing-masing jenis pajak memiliki kriteria dan aturan sendiri sehingga orang tidak akan dengan gampang mengutak-atik besar pajak yang ditentukan dan tata cara pemungutan pajak tersebut.

Bahkan jenis pajak tersebut juga berbeda dalam hal waktu penarikannya. Di antara jenis pajak yang dibayarkan dengan begitu sering adalah pajak pertambahan nilai (ppn). Pajak pertambahan nilai merupakan pajak yang dibayarkan setiap kali kita membeli barang dan jasa yang menurut peraturan perundangan perpajakan dikenai pajak. Prosentase pajak pertambahan nilai antara satu barang dengan barang lain juga berbeda-beda. Jenis barang dan jasa yang dikenai pajak petambahan nilai misalnya hotel dan makanan yang ada di dalamnya, sewa taksi atau mobil, solar atau bensin, bisnis hiburan, seminar atau konferensi dagang, serta pelatihan dan konsultasi biaya. Untuk mengatur pelaksanaan pemungutan pajak pertambahan nilai, diperlukan sebuah sistem akuntansi pajak ppn sehigga pajak pertambahan nilai yang dibebankan pada pembeli ternyata tidak sepadan dengan kualitas barang atau jasa yang dibeli.

Pengertian dari pajak pertambahan nilai dapat dilihat dari dua sudut pandang yang berbeda, yaitu sudut pandang pembeli dan sudut pandang penjual. Dari kacamata pembeli, kita akan mendapati pajak pertambahan nilai sebagai pajak konsumtif, yang dibebankan pada pembeli dari suatu barang atau jasa. Bagi penjual, pajak pertambahan nilai merupakan nilai tambah dari modal yang dia keluarkan dalam proses produksi barang atau jasa. Nilai tambah dari suatu produk bisnis dihitung dengan cara mengurangi harga jual produk yang dibebankan pada pembeli dengan biaya bahan pembuat produk tersebut. Sedangkan akuntansi pajak ppn berfungsi sebagai penghitung jumlah pajak yang harus dibayarkan oleh pembeli barang atau jasa.

Sejarah Pajak Pertambahan Nilai

 

Pajak pertambahan nilai pertama kali diperkenalkan oleh seorang direktur badan pajak perancis pada tahun 1954. Awalnya pajak ini hanya dikenakan pada barang yang dihasilkan oleh industri besar. Namun lama kelamaan jenis barang yang dikenai pajak menjadi bertambah. Wilayah kerja akuntansi pajak ppn sendiri juga melibatkan semua jenis barang atau jasa yang menurut peraturan perundangan harus dikenai pajak pertambahan nilai. Pihak yang berkewajiban membayar pajak pertambahan nilai sebenarnya adalah perusahaan kena pajak atau disingkat PKP. Akan tetapi dalam praktiknya perusahaan kena pajak melakukan pemungutan ppn saat melakukan penjualan produk atau jasa.

Pajak seperti ini disebut sebagai pajak masukan atau PM.  Dalam satu bulan seluruh pajak dihitung, kemudian pajak keluaran dikurangi dengan pajak masukan. Bila terjadi pajak positif atau Pk lebih besar daripada PM, maka jumlah kelebihannya harus disetorkan ke kas negara. Proses penarikan ppn dilakukan berdasarkan mekanisme yang belaku di Indonesia. Dimulai dengan penyerahan BKP dari PKP yang kemudian memungut pajak pertambahan nilai dari pembeli. Tugas dari akuntansi pajak ppn adalah membuat jurnal dari transaksi pajak pertambahan nilai. Cara menjurnal PPn dalam akuntansi pajak ppn keluaran tidak susah, yaitu dengan cara menjadikan ppn sebagai hutang bagi PKP. Sedangkan dalam akuntansi pajak ppn masukan, kita harus memasukkan pajak masukan ke kolom kredit.

Artikel ini Bermanfaat? Share Sekarang..Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on Facebook

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Home | Blog | Order | Free Download | Video Tutorial | Contact Us
Kebijakan Kami | EULA | Tentang Kami | Syarat & Ketentuan | FAQ